#np RAJASINGA “PENJARA” on Screen Printing Poster

Beberapa minggu lalu bertandang ke Clinicterror Studio di Bandung. Beberapa  hari diam disanan akhirnya berkesempatan membuat beberapa project screen printing poster, salah satunya diambil dari artwork yang dibuat untuk Rajasinga “Penjara” yang merchandise dalam bentuk tshirt yang sudah dirilis duluan Mei kemarin, dibawah lisensi Negrijuana.

Seperti sebuah urusan lama yang diangkat jadi bahan obrolan kembali dengan Reza dari Clinicterror, ketika kita membahas proses pengerjaan screen printing kali ini. Beberapa memori menguak, mengikut contoh kasus yang menjadi kendala kita (saya dan Månstråle) waktu silam, sampai ke perkara teknis sablon itu sendiri. Dari riset dan membeli material cat di Pagarsih (adalah spot surga wilayah selatan, tempat material yang berhubungan dengan teknik cetak di Bandung), pecah warna layer artwork, beli dan potong kertas, pemasangan munil baru, proses afdruk dan pengadukan cat adalah ritual yang biasa dalam penyablonan, dan ini benar-benar menjadi semacam menarik kembali aktivitas lama yang beberapa tahun dulu sering dilakukan semasa di Bandung, glad to see you old big business!

Oke, mungkin yang menyempatkan diri membaca jurnal ini disini, bingung atau heran kenapa saya sangat mencintai produk teknik cetak saring ini, sebagai pendahuluan, mungkin bisa menyimak dari wacana yang dirangkum oleh wikipedia tentang apa screen printing itu sendiri.

Secara simplenya screen printing poster ini adalah upaya dalam rangka membuat karya dalam jumlah yang banyak sekaligus atau repro yang digunakan oleh seniman ilustrasi dan cetak. Sebuah cara tradisional yang klasik yang mungkin sedikit dilupakan karena ketidak praktisan dan prosesnya di perkembangan digital printing yang marak sekarang. Tapi menjadi sebuah keistemewaan Screen Printing Poster adalah penggandaan bentuknya menjadi sebuah karya dari pertama sampai akhir (edisi atau jumlah) itu pastinya adalah sesuatu yang orisinal, yang tentu saja ini tidak didapatkan ketika merepro  dengan laser/ inkjet print yang sering kita temui. Hasilny yang bisa berubah antara satu  kertas dengan edisi kertas poster lainnya tidaklah selalu sama, baik itu karena pertimbangan tekanan gesutan ataupun teknis ketika loading cat, yang menjadikan Screen Printing Poster itu adalah sesuatu yang otentik, Jangan mengharapkan ini adalah sebuah produksi yang stagnan kualitasi hasilnya seperti Digital Printing. Didukung oleh gramasi kertas yang benar, ukuran yang sesuai dengan keinginan artistnya sendiri, penggunaan kertas yang memiliki karakter acid free, kedetilan komposisi cotton yang pas, memberikan poster sablon ini memiliki ketahahan dan awet kelembapan. Oke di sini kurasa sudah jelas darimana datangnya screen printing adalah sebuah hal yang spesial.



Btw, teaser ini adalah rekap momen video yang sempat terekam dalam proses pembuatan screenprinting poster yang saya rilis hanya dalam 13 edisi, 3 palette warna diatas kertas COG, 18”x24”, 300gsm. Tersedia di shop sekarang.

 

Blues Menuju Thrash : HITAM SEMESTA

Hitam Semesta. Membius memori kembali di 13 tahun lalu ketika menghasilkan sesuatu yang secara personal adalah karya terjujur yang pernah dibuat. 

Terus terang aku bingung memulai dari mana untuk menulis tentang Hitam Semesta sebagai highlight cover story.

Hmm. Mungkin bisa dimulai dengan menceritakan dari awal tentang band satu ini kali ya? Sesungguhnya aku tidak mau terjebak romantisme belaka disini, tapi momen berbagi kehidupan bersama di sebuah rumah di sudut jalan Manteron 42 Sukaluyu Bandung waktu itu; mempunyai cerita, proses intimasi  mengenal karakter mendalam lebih personal sampai terjadi hubungan kerjasama kita yang sangat bermutu, salah satunya ilustrasi kover Hitam Semesta ini dan proses kreatif penggarapan layout artistik mereka di album berikutnya, Gemuruh Musik Pertiwi adalah kurasa langkah awal yang bagus untuk mengingat yang samar dan tidak detil dalam tulisan ini

–Oke! Aku rasa on track sekarang, semoga ini awal yang cukup  sebagai pembuka. 

Sumatera Joint Ritual with Medani

Sumatera Joint Ritual, adalah cara kami menyebut spirit rantau kami yang jauh dari kampung halaman sebagai identitas untuk semua cerita dan mimpi banyak terbentuk waktu itu. Bagaimana tidak ada obrolan seru selain membicarakan musik dan bualan sambil seruput kopi atau teh botol segar yang ditinggal si bos nasgor yang mangkal depan jalan rumah kontrakan setiap malamnya,  membuka program software grafis semacam Adobe atau CorelDraw mendesain logo atau artwork yang bisa berhari hari (FYI, Doddy Hamson menggarap kover vektor Panorama-nya yang fenomenal dikomputer kamar kala itu :D), karena memang kita hidup tidak mengenal tenggat waktu, kuliah? Itu sambil lalu saja, lebih hanya simbol mengabdi dan pergaulan saja, bermain gitar dengan amplifier yang kencang, sebuah kebebasan yang tidak mungkin bisa dilakukan dirumah ketika kamu hidup bersama orang tua dan keluarga, kemudian aksi air-headbang ketika beradu gelas dalam privat ritual kita di rumah itu, permainan putar balik kata fakta agar tidak kalah dalam forum ritual duduk melingkar adu gelas, Distorsi Mulut Setan! …Atau datang ke studio rental untuk sekedar jamming yang mana waktu itu sudah sama lagak total gaya dengan aksi panggung sesungguhnya, bahkan celetukan jokes seperti “Slayer (/) Pantera kayak begini ngga ya” seloroh di kontrakan kita ketika tanggal tua menghantui, hidup sederhana  sehingga (terpaksa) tidak untuk banyak mau dulu. Ya, kebanyakan hal-hal mandiri seperti itu. Hingga waktunya tiba, beberapa dari kita ada yang bertahan, ada yang ditarik ‘dealer‘ (-keluarga untuk jalan kebaikan). Haha. 

2003 adalah awalnya Komunal tercetus. Dari bentuk ketidakpuasan band sebelumnya, Ragadub. Doddy Hamson ingin yang lebih lagi. Sesuatu yang lebih menyerang. Agresi. Impiannya ini selalu dia utarakan, aku ingat bagaimana berapi-apinya dia waktu itu.

DH doodling, circa 2005

Doddy Hamson, Muhammad Anwar Sadat, Arie Khomaini, Reza Ai, boleh dibilang bentuk talian pertemanan yang menghasilkan hal-hal berkualitas sejauh aku bisa mengingat. Semangat berkawan yang semakin kuat belajar dari pengalaman mereka sebelumnya, menghantarkan visi dan karakter ketujuan yang di mau.

Komunal live at Classic Rock Bandung, 2004

Bermodalkan nyala api yang nekat, album pertama dirilis dengan tajuk Panorama di 2004, dibawah bendera Hamson Killer Records.  Label yang ditenggarai adalah usaha halal Doddy Hamson mengumpulkan uang dari hasil kelilingnya menjual makanan anjing dan kucing selama beberapa bulan di Ibukota.

Review yang memuaskan, bisik bisik dari mulut ke mulut, sedikit trik media-media standar, Panorama-pun menuai pujian. Angin segar mencerahkan dikancah musik metal yang saat itu sedikit membosankan. Selentingan disebut ‘Metal Rantau’, dengan embel embel “Segan” mengikuti. Akhirnya, panggung demi panggung dijejali. Sesuai namanya, tidak ada yang tidak ikutan sibuk jika Komunal punya jadwal panggung, terutama untuk kita kita yang berdiam dan tinggal di Manteron 42 waktu itu. Kekeluargaan. Aku pribadi selalu tidak menolak sekedar menjadi roadies atau tim hore Komunal atau sekedar ikut menyumbang suara di lagu ‘Dalam Kerinduan’ disetiap panggung lagu itu dinyanyikan. Yang pasti, rumah itu sepi ketika kita keluar untuk menuntaskan panggung, dan baru ada aktivitas kembali ketika kita sudah pulang kembali kerumah. Kehidupan seperti yang kita inginkan sejauh kita mau pada masa itu, Komunal melaju dengan Panorama, dan aku sedang memanaskan mesin yang meradang bersama Rajasinga untuk ‘Pandora’.  Goodtimes.

Komunal photosession at my room, 2005
Komunal photosession at my throne room, M42 circa 2004

Kegiatan rutin terjadi  seperti ini sampai ada waktunya kita berpisah. Tidak diperpanjangnya sewa kontrakan Manteron 42 itupun mewajibkan kita untuk berpencar, mencari kehidupan bertempat tinggal yang baru. Doddy Hamson menggambar situasi terkini waktu itu dalam selagu Disintegrasi : 

Hamparan membentang/ Mari menerkam menerjang/ Tinggalkan yang lelah/ Semangat takkan meredup/ Sambutlah kami kawan barumu untuk beraksi/ Disintegrasi/  Menatap ke depan/ Membangun budaya baru/ Barisan terdepan/ Realisasi masa depan

Tarankanua, original drawing on paper

Kehidupan militan yang dipunya menghasilkan perjumpaan jarang tapi berkualitas, Komunal mengumpulkan banyak materi dalam kurun 1 tahun dan bersiap masuk dapur rekaman kembali. Massive studio, dibilangan Cigadung Bandung Utara dikultuskan sebagai tempat rekam untuk 18 materi baru Komunal. Hampir satu tahun juga, proses rampung sampai mastering dan penemuan titel yang cocok untuk album kedua ini tercetuskan. Hitam Semesta. Diambil dari satu nomor paling gelap diantara 18 lagu lainnya. Track lagu yang paling aku favoritkan dalam album ini.

Obrolan untuk menggarap kover sudah beberapa kali dicetuskan oleh Komunal. Gamang? pasti! Meskipun kita sudah mengenal satu sama lain, tapi sungguh adalah sesuatu yang tidak aku bisa sangkal ini adalah kehormatan dan sebuah kesempatan dengan tanggung jawab yang besar. Berawal dari membuat beberapa desain tshirt untuk Komunal di era awal mereka mulai membangun departemen merch Komunal. Doddy Hamson pula juga yang semacam memberikan energi dan spirit yang besar untuk aku mengisi kekosongan posisi ilustrator waktu. Sangat positif sekali dia. Sampai ketika waktunya memungkinkan untuk serius, akupun mulai menggarap ilustrasi untuk project ini. Sketsa pendahuluan sudah beberapa kali aku tawarkan, beberapa menjadi ilustrasi pendamping di sleeve lirik, hingga akhirnya dicetus objek yang diinginkan untuk menyimbolkan Komunal dan Hitam Semestanya itu sendiri dengan ikon Gagak. Aku lupa bagaimana gagak menjadi ikon mereka waktu itu, yang pasti Doddy Hamson yang datang mengutarakan idenya tentang ini dengan sketsa outline/ garis khas Doddy Hamson yang avant garde.

Hitam Semesta, sang gagak yang membusung terlihat, aku buat di kertas art murahan Concorde paper, 59×42 cm waktu itu dengan teknis gambar menggunakan tinta china, akrilik, bahkan Tip-ex (!!). Dari segi teknis, ini adalah project pertama aku untuk beralih kebidang media yang lebih besar waktu itu, 2007. Ketidakpuasan pastinya bahkan ingin mengulang kembali kembali imaji Gagak yang ada sekarang kala itu, namun Doddy Hamson sekali lagi menegaskan, ini sudah cukup untuk menjadi visual dan perwakilan dari Hitam Semesta itu sendiri.  Aku tidak bisa berbuat banyak lagi. Akhirnya, aku sendiri yang sedang mencoba upgrade keterampilan dan mengasah kebisaan dan eksperimen kala itu, menjadikan Hitam Semesta adalah titik balik dari perjalanan aku sebagai seorang perupa. Sehingga ianya kutetapkan sebagai sebuah masalah personal terse diri, hasil sebuah yang jujur, lebih ke raw, karena hanya berpikir menghidupi momen yang ada diwaktu itu menyediakan. Keterbatasan pengetahuan dan referensi yang seadanya kala itu tidak merubah semangat yang ada. Justru aku rasa ini nampaknya menghidupi spirit dan passion aku di masa itu, ketika aku mencoba mengumpulkan kembali tangkapan memori di hari ini.

Hitam Semesta, original art on paper

13 tahun hari ini, Hitam Semesta itu dibuat, dan belum pernah dipublikasikan secara bentuk karyanya. Tidak semua memori  atau potret kreatif pengerjaan ilustrasi kover yang bisa aku rangkum dan ungkap disini. Tapi tidak dengan ketika mendengarkan kembali tembang-tembang yang mereka lantunkan, aku masih merasakan seperti bagaimana catchynya part gitar dan anthem Medani yang spirit berbanding lurus dengan highlight momen kehidupan aku waktu itu yang katakanlah ‘no future’, dalam konteks: “tidak ada waktu selain hari itu”. Tarankanua, yang sebenar potret kehidupan kami pemuda rantau, yang menjadi pemicu tercipta dan bersandingnya Anak Haram Ibu Kota dari Rajasinga,… atau, sensasi pertama ketika mendengarkan gelapnya balada yang coba Doddy Hamson dalam tiap penggal Hitam Semesta itu sendiri, Membius. Musik mereka ini abadi, paling tidak itu yang terunggah di benakku. Atau kesamaan rasa dalam Higher Than Mountain, sensasi emosi masih tetaplah sama, dengan aku di 2007 yang  on repeat mendengarkan materi mereka selama pengerjaan kover ini, begitupun di hari ini aku mendengarkan dan menulis essay di jurnal ini.

This works is Timeless. Aku tidak bisa menggugat klaim diksi penuh makna ini untuk sebuah karya yang pernah terjujur pernah aku buat, tanpa komodifikasi dan ekspekstasi, yang pastinya tidak lepas dari kebesaran 18 lagu yang ada didalamnya. Komunal: Born in Blues, Raised on Rock, and Grow up in Metal.

Heavy Metal Tetap Berkibar!

…because you know i am alone long way from home

KOMUNAL ‘Hitam Semesta’ & ‘Gemuruh Musik Pertiwi’

12″ Record and Double CD Coming Out Soon by Disaster Record.

www.disasterposse.com