THE FLOWERS – ‘Roda Roda Gila’

(left to right) Njet-Morrg-Boris-Armijn Pane. Kota, 2017

Salah satu band yang menjadi saksi muda penanda saya diumur belia.     -Tentang pengertian bagaimana bersikap, menilai, dan karakter meskipun mereka tidak mengumbar kewajiban moral.  

…mereka, The Flowers.

Bukan berlebih ketika mencoba melihat kebelakang, bagaimana  seorang anak muda  15 tahun di Pekanbaru sana yang terpukau dengan style yang mereka tawarkan, berlari mendekat ketika ada kesempatan pemutaran lagunya di radio dan tv lokal pada waktu itu hanya untuk merasakan sensasi menyenangkan dalam hitungan durasi single “Tolong Bu Dokter”, memburu kasetnya, memahami dengan sendiri, kemudian tumbuh kembang merantau beriringan waktu dengan karya meraka dan hidup selanjutnya sebagai pekerja seni malah berkeinginan dan tak jera mengungkapkan mimpi ambisius untuk suatu waktu bisa berkerjasama dan melakukan sesuatu untuk mereka. Haha!Dan ya,  rentang waktu diawal berkarir berkecimpung dunia ilustrasi dibeberapa interview media, Aku selalu mention The Flowers  di setiap pertanyaan tentang band apa lagi yang ingin di garap ilustrasinya.

Semacam itu.

Keberadaan The Flowers termasuk yang sangat jarang sekali tampil waktu itu, sampai kemudian muncul dengan ‘Still Alive and Well’ di 2009, dengan “Rajawali” sebagai intisari dan sikap wajib di tongkrongan dan bersenang. Brengsek, semakin menjadikan mereka salah satu band yang selalu  aku tunggu setiap kali show dan berita tentang mereka. Bahkan menyempatkan diri untuk datang ke ibukota hanya untuk mengejar waktu menikmati show mereka ketika masih berada di Bandung dulu, adalah sebuah kewajiban. Ungkapan perasaan dan keputusan daripada menyesal tak mendatangi show mereka. Sekedar bernyanyi, berkeringat bersama para loyal lainnya.

***  

Adalah di satu larut malam, beberapa hari setelah masuk September 2019, Dado sang drummer mengontak saya membawa kabar baik the Flowers akan merilis album ketiga mereka, dengan waktu yang tidaklah panjang dalam proses lini masa rilisnya, serta tak lupa menanyakan perihal kesediaan saya untuk menggarap illustrasi untuk album yang di beri tajuk Roda Roda Gila. Gila memang adalah sebuah kesempatan seperti suatu keinginan yang menjadi nyata. ———“Yak sikat gas, dong!” ——— Begitu kirakira ijab kabul yang tak pakai lama ini. ..setelah selama ini!  

Obrolan berhenti sampai disana. Esoknya Dado mengirimkan file dalam bentuk wav, mixing demo 5 track yang akan muncul di album baru ini.

Pengalaman pertama mendengarkan demo ini seingatku tidak ada perlawanan yang bertentangan dalam hati untuk mereka di materi dulu dan materi yang terbaru, track yang disuguhkan waktu itu seperti biasa khas The Flowers, ..selalu memancing untuk menghanyutkan!
Aku ingat, bagaimana senyum mengembang ketika mendengar geraman emosi khas Njet Barmansyah di lagu ‘Ngehe’ (btw, part N-G-E-H-E adalah keputusan nyeleneh yang sangat khas)
atau terdiam di sesi gitar Boris Simanjuntak di ‘Tuhan Ikut Bernyanyi’ yang syahdu itu. Aku rasa, sesuatu yang sangat spiritual dia coba suguhkan, sesuatu yang ‘dalam’ bukan hanya Blues belaka. Hails! kemudian Tenor sexsopan Eugene Bounty yang membius layaknya kenikmatan di negeri seribu satu malam dalam lagu Bebek dan Panda. Raungan distorsi berpadu pukulan berat memabukkan Dado Darmawan. Gebukan tak main main, bak sedang siksa ranjang, yang bikin goyang. Sesuatu yang Rock n Roll! Asli, Nakal tapi Goyang. 

Mereka masih melestarikan itu!  Mereka ‘Bernyanyi Sampai Mati’.

***

Dalam proses penggalian ide kreasi di fase awal selain mencerna materi dan lirik yang akan ada di Roda Roda Gila nantinya, melihat kebelakang, membuka kembali atau sekedar membaca apa yang terancang menjadi desain di sleeve album pendahulu 17 tahun Keatas (1997) dan Still Alive and Well (2010) adalah jembatan untuk menemukan jalan inspirasi.Dari belia ketika melihat kover album 17 tahun keatas aku selalu terpaku dengan bentuk objek sentral, sebuah bentuk merah menyerupai mata Horus dengan sulur-sulur hitam yang lain membentuk formasi cakra melingkar. Ikon catchy yang ditemukan dan didesain oleh seorang AryBud pada tahun ’96 silam telah ditakdirkan abadi dengan kebesaran materi album perdana tersebut. Cult! Mencuri perhatian itu pulalah yang dengan bebasnya aku coba ulangi kembali entitas tersebut (di Roda Roda Gila). Hm, sesuatu simbolik memang sepertinya tidak pernah hilang dari karakter The Flowers bahkan sublim bentuk paduan bunga dan tengkorak yang tergambar didalam album ‘Still Alive and Well’ sebuah design logo yang jalanan adanya.

Begitu juga dalam pembuatan logotype font terbaru untuk mereka. Aku mencoba sebisa mungkin berada di koridor 2 album sebelumnya  hanya kali ini lebih  mematangkan kurva garis, kemudahan yang diberikan software digital sehingga identitas sebagai sebuah band Rock yang vintage dan mature pun bisa terlihat megah untuk siapapun yang menyaksikan. Ah, cukup sedikit saja kajian tinjauan desain disini, karena ‘rasa’ kupikir lebih memiliki.

Oke kembali ke awal, dari sini ide konsep pun bermula. Merotasi bentuk tersebut sehingga mengalami perluasan makna (yang mengikut kepada garis yang ada disekitarnya). Sebuah manuver awal yang baik untuk mendapatkan kebebasan, pikirku. Seperti itu. Citra bohemian dan genrenya yang flamboyan kemudian menginspirasi untuk menyematkan sebuah objek yang melambangkan keindahan kasih sayang dan kedamaian.

Preliminary before meet the bands

Beberapa ide aku kunci untuk sementara, beberapanya adalah  coretan dan notes kata kunci. Tentang apa Roda Roda Gila itu sedikit banyak terungkap,  tapi pertanyaanku lagi di malam-malam itu, ..sama kah? Samakah dengan apa yang Boris dkk bayangkan? 

Boris dan Dado menyempatkan diri datang ke studio di kediaman waktu itu disudut Bojongsari, Sawangan. Hanya untuk sekedar hearing session materi dan cerita dibalik proses kreatif. …Oke, yang aku ingat malam itu kebanyakan obrolan ringan intim sampai larut malam. Pastinya aku tidak melepaskan kesempatan mengorek  lebih dalam makna dan harapan Boris dan Dado tentang frasa ‘Roda Roda Gila’ ini. Adu gelas untuk jawaban pertanyaan besar itu. Sebuah sosok imaji yang sefrekuensi Boris dan Dado miliki  sesuai wacana yang berputar di pikiranku sebelumnya. Sontak goresan coretan langsung bergulir melaju didepan mereka sambil menyimak apapun riuh cerita kita waktu itu dan mereview sketsa kasar langsung didepan Boris dan Dado. Ya! singkatnya, terberkatilah malam itu.

scenes from the late night sketch
raw sketch for material production

***

At the Studio, Darmawangsa 2019. 2 days before D-day.

***

Hari ini, 4 tahun berjalan sejak dirilisnya album Roda Roda Gila. Personal, mendengarkan mereka di hari-hari sekarang, tetap terasa jejak yang sama layaknya sensasi awal ketika mendengarkan. Masih menjadi ingatan yang segar sedari mula dan tak banyak yang tau bahwa ini adalah pengerjaan ilustrasi kover yang sangat cepat pernah dibuat, pengerjaan yang dilakukan dengan sepenuh hati tanpa ada hambatan, aral, pikiran yang berarti. Semenyenangkan itu hingga memakan waktu kurang dari 14 hari termasuk proses proofing sample cetak dan produksi, pun tak terasa. Meski beberapa eksekusi agar selaras dengan keterbatasan dan waktu yang  kita punya mengharuskan kompromi dan rem segera.  Tapi seperti penggalan  di Roda Roda Gila, “… Susuri jalan yang gak pernah berujung, Tak perlu lurus harus tancap gas!”

Ya seperti itu lah.

ALL HAILS FOR THE KING  THE OWNER OF LONELY HEART! -rajawali

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *