#np RAJASINGA “PENJARA” on Screen Printing Poster

Beberapa minggu lalu bertandang ke Clinicterror Studio di Bandung. Beberapa  hari diam disanan akhirnya berkesempatan membuat beberapa project screen printing poster, salah satunya diambil dari artwork yang dibuat untuk Rajasinga “Penjara” yang merchandise dalam bentuk tshirt yang sudah dirilis duluan Mei kemarin, dibawah lisensi Negrijuana.

Seperti sebuah urusan lama yang diangkat jadi bahan obrolan kembali dengan Reza dari Clinicterror, ketika kita membahas proses pengerjaan screen printing kali ini. Beberapa memori menguak, mengikut contoh kasus yang menjadi kendala kita (saya dan Månstråle) waktu silam, sampai ke perkara teknis sablon itu sendiri. Dari riset dan membeli material cat di Pagarsih (adalah spot surga wilayah selatan, tempat material yang berhubungan dengan teknik cetak di Bandung), pecah warna layer artwork, beli dan potong kertas, pemasangan munil baru, proses afdruk dan pengadukan cat adalah ritual yang biasa dalam penyablonan, dan ini benar-benar menjadi semacam menarik kembali aktivitas lama yang beberapa tahun dulu sering dilakukan semasa di Bandung, glad to see you old big business!

Oke, mungkin yang menyempatkan diri membaca jurnal ini disini, bingung atau heran kenapa saya sangat mencintai produk teknik cetak saring ini, sebagai pendahuluan, mungkin bisa menyimak dari wacana yang dirangkum oleh wikipedia tentang apa screen printing itu sendiri.

Secara simplenya screen printing poster ini adalah upaya dalam rangka membuat karya dalam jumlah yang banyak sekaligus atau repro yang digunakan oleh seniman ilustrasi dan cetak. Sebuah cara tradisional yang klasik yang mungkin sedikit dilupakan karena ketidak praktisan dan prosesnya di perkembangan digital printing yang marak sekarang. Tapi menjadi sebuah keistemewaan Screen Printing Poster adalah penggandaan bentuknya menjadi sebuah karya dari pertama sampai akhir (edisi atau jumlah) itu pastinya adalah sesuatu yang orisinal, yang tentu saja ini tidak didapatkan ketika merepro  dengan laser/ inkjet print yang sering kita temui. Hasilny yang bisa berubah antara satu  kertas dengan edisi kertas poster lainnya tidaklah selalu sama, baik itu karena pertimbangan tekanan gesutan ataupun teknis ketika loading cat, yang menjadikan Screen Printing Poster itu adalah sesuatu yang otentik, Jangan mengharapkan ini adalah sebuah produksi yang stagnan kualitasi hasilnya seperti Digital Printing. Didukung oleh gramasi kertas yang benar, ukuran yang sesuai dengan keinginan artistnya sendiri, penggunaan kertas yang memiliki karakter acid free, kedetilan komposisi cotton yang pas, memberikan poster sablon ini memiliki ketahahan dan awet kelembapan. Oke di sini kurasa sudah jelas darimana datangnya screen printing adalah sebuah hal yang spesial.



Btw, teaser ini adalah rekap momen video yang sempat terekam dalam proses pembuatan screenprinting poster yang saya rilis hanya dalam 13 edisi, 3 palette warna diatas kertas COG, 18”x24”, 300gsm. Tersedia di shop sekarang.

 

Blues Menuju Thrash : HITAM SEMESTA

Hitam Semesta. Membius memori kembali di 13 tahun lalu ketika menghasilkan sesuatu yang secara personal adalah karya terjujur yang pernah dibuat. 

Terus terang aku bingung memulai dari mana untuk menulis tentang Hitam Semesta sebagai highlight cover story.

Hmm. Mungkin bisa dimulai dengan menceritakan dari awal tentang band satu ini kali ya? Sesungguhnya aku tidak mau terjebak romantisme belaka disini, tapi momen berbagi kehidupan bersama di sebuah rumah di sudut jalan Manteron 42 Sukaluyu Bandung waktu itu; mempunyai cerita, proses intimasi  mengenal karakter mendalam lebih personal sampai terjadi hubungan kerjasama kita yang sangat bermutu, salah satunya ilustrasi kover Hitam Semesta ini dan proses kreatif penggarapan layout artistik mereka di album berikutnya, Gemuruh Musik Pertiwi adalah kurasa langkah awal yang bagus untuk mengingat yang samar dan tidak detil dalam tulisan ini

–Oke! Aku rasa on track sekarang, semoga ini awal yang cukup  sebagai pembuka. 

Sumatera Joint Ritual with Medani

Sumatera Joint Ritual, adalah cara kami menyebut spirit rantau kami yang jauh dari kampung halaman sebagai identitas untuk semua cerita dan mimpi banyak terbentuk waktu itu. Bagaimana tidak ada obrolan seru selain membicarakan musik dan bualan sambil seruput kopi atau teh botol segar yang ditinggal si bos nasgor yang mangkal depan jalan rumah kontrakan setiap malamnya,  membuka program software grafis semacam Adobe atau CorelDraw mendesain logo atau artwork yang bisa berhari hari (FYI, Doddy Hamson menggarap kover vektor Panorama-nya yang fenomenal dikomputer kamar kala itu :D), karena memang kita hidup tidak mengenal tenggat waktu, kuliah? Itu sambil lalu saja, lebih hanya simbol mengabdi dan pergaulan saja, bermain gitar dengan amplifier yang kencang, sebuah kebebasan yang tidak mungkin bisa dilakukan dirumah ketika kamu hidup bersama orang tua dan keluarga, kemudian aksi air-headbang ketika beradu gelas dalam privat ritual kita di rumah itu, permainan putar balik kata fakta agar tidak kalah dalam forum ritual duduk melingkar adu gelas, Distorsi Mulut Setan! …Atau datang ke studio rental untuk sekedar jamming yang mana waktu itu sudah sama lagak total gaya dengan aksi panggung sesungguhnya, bahkan celetukan jokes seperti “Slayer (/) Pantera kayak begini ngga ya” seloroh di kontrakan kita ketika tanggal tua menghantui, hidup sederhana  sehingga (terpaksa) tidak untuk banyak mau dulu. Ya, kebanyakan hal-hal mandiri seperti itu. Hingga waktunya tiba, beberapa dari kita ada yang bertahan, ada yang ditarik ‘dealer‘ (-keluarga untuk jalan kebaikan). Haha. 

2003 adalah awalnya Komunal tercetus. Dari bentuk ketidakpuasan band sebelumnya, Ragadub. Doddy Hamson ingin yang lebih lagi. Sesuatu yang lebih menyerang. Agresi. Impiannya ini selalu dia utarakan, aku ingat bagaimana berapi-apinya dia waktu itu.

DH doodling, circa 2005

Doddy Hamson, Muhammad Anwar Sadat, Arie Khomaini, Reza Ai, boleh dibilang bentuk talian pertemanan yang menghasilkan hal-hal berkualitas sejauh aku bisa mengingat. Semangat berkawan yang semakin kuat belajar dari pengalaman mereka sebelumnya, menghantarkan visi dan karakter ketujuan yang di mau.

Komunal live at Classic Rock Bandung, 2004

Bermodalkan nyala api yang nekat, album pertama dirilis dengan tajuk Panorama di 2004, dibawah bendera Hamson Killer Records.  Label yang ditenggarai adalah usaha halal Doddy Hamson mengumpulkan uang dari hasil kelilingnya menjual makanan anjing dan kucing selama beberapa bulan di Ibukota.

Review yang memuaskan, bisik bisik dari mulut ke mulut, sedikit trik media-media standar, Panorama-pun menuai pujian. Angin segar mencerahkan dikancah musik metal yang saat itu sedikit membosankan. Selentingan disebut ‘Metal Rantau’, dengan embel embel “Segan” mengikuti. Akhirnya, panggung demi panggung dijejali. Sesuai namanya, tidak ada yang tidak ikutan sibuk jika Komunal punya jadwal panggung, terutama untuk kita kita yang berdiam dan tinggal di Manteron 42 waktu itu. Kekeluargaan. Aku pribadi selalu tidak menolak sekedar menjadi roadies atau tim hore Komunal atau sekedar ikut menyumbang suara di lagu ‘Dalam Kerinduan’ disetiap panggung lagu itu dinyanyikan. Yang pasti, rumah itu sepi ketika kita keluar untuk menuntaskan panggung, dan baru ada aktivitas kembali ketika kita sudah pulang kembali kerumah. Kehidupan seperti yang kita inginkan sejauh kita mau pada masa itu, Komunal melaju dengan Panorama, dan aku sedang memanaskan mesin yang meradang bersama Rajasinga untuk ‘Pandora’.  Goodtimes.

Komunal photosession at my room, 2005
Komunal photosession at my throne room, M42 circa 2004

Kegiatan rutin terjadi  seperti ini sampai ada waktunya kita berpisah. Tidak diperpanjangnya sewa kontrakan Manteron 42 itupun mewajibkan kita untuk berpencar, mencari kehidupan bertempat tinggal yang baru. Doddy Hamson menggambar situasi terkini waktu itu dalam selagu Disintegrasi : 

Hamparan membentang/ Mari menerkam menerjang/ Tinggalkan yang lelah/ Semangat takkan meredup/ Sambutlah kami kawan barumu untuk beraksi/ Disintegrasi/  Menatap ke depan/ Membangun budaya baru/ Barisan terdepan/ Realisasi masa depan

Kehidupan militan yang dipunya menghasilkan perjumpaan jarang tapi berkualitas, Komunal mengumpulkan banyak materi dalam kurun 1 tahun dan bersiap masuk dapur rekaman kembali. Massive studio, dibilangan Cigadung Bandung Utara dikultuskan sebagai tempat rekam untuk 18 materi baru Komunal. Hampir satu tahun juga, proses rampung sampai mastering dan penemuan titel yang cocok untuk album kedua ini tercetuskan. Hitam Semesta. Diambil dari satu nomor paling gelap diantara 18 lagu lainnya. Track lagu yang paling aku favoritkan dalam album ini.

Obrolan untuk menggarap kover sudah beberapa kali dicetuskan oleh Komunal. Gamang? pasti! Meskipun kita sudah mengenal satu sama lain, tapi sungguh adalah sesuatu yang tidak aku bisa sangkal ini adalah kehormatan dan sebuah kesempatan dengan tanggung jawab yang besar. Berawal dari membuat beberapa desain tshirt untuk Komunal di era awal mereka mulai membangun departemen merch Komunal. Doddy Hamson pula juga yang semacam memberikan energi dan spirit yang besar untuk aku mengisi kekosongan posisi ilustrator waktu. Sangat positif sekali dia. Sampai ketika waktunya memungkinkan untuk serius, akupun mulai menggarap ilustrasi untuk project ini. Sketsa pendahuluan sudah beberapa kali aku tawarkan, beberapa menjadi ilustrasi pendamping di sleeve lirik, hingga akhirnya dicetus objek yang diinginkan untuk menyimbolkan Komunal dan Hitam Semestanya itu sendiri dengan ikon Gagak. Aku lupa bagaimana gagak menjadi ikon mereka waktu itu, yang pasti Doddy Hamson yang datang mengutarakan idenya tentang ini dengan sketsa outline/ garis khas Doddy Hamson yang avant garde.

Hitam Semesta, sang gagak yang membusung terlihat, aku buat di kertas art murahan Concorde paper, 59×42 cm waktu itu dengan teknis gambar menggunakan tinta china, akrilik, bahkan Tip-ex (!!). Dari segi teknis, ini adalah project pertama aku untuk beralih kebidang media yang lebih besar waktu itu, 2007. Ketidakpuasan pastinya bahkan ingin mengulang kembali kembali imaji Gagak yang ada sekarang kala itu, namun Doddy Hamson sekali lagi menegaskan, ini sudah cukup untuk menjadi visual dan perwakilan dari Hitam Semesta itu sendiri.  Aku tidak bisa berbuat banyak lagi. Akhirnya, aku sendiri yang sedang mencoba upgrade keterampilan dan mengasah kebisaan dan eksperimen kala itu, menjadikan Hitam Semesta adalah titik balik dari perjalanan aku sebagai seorang perupa. Sehingga ianya kutetapkan sebagai sebuah masalah personal terse diri, hasil sebuah yang jujur, lebih ke raw, karena hanya berpikir menghidupi momen yang ada diwaktu itu menyediakan. Keterbatasan pengetahuan dan referensi yang seadanya kala itu tidak merubah semangat yang ada. Justru aku rasa ini nampaknya menghidupi spirit dan passion aku di masa itu, ketika aku mencoba mengumpulkan kembali tangkapan memori di hari ini.

13 tahun hari ini, Hitam Semesta itu dibuat, dan belum pernah dipublikasikan secara bentuk karyanya. Tidak semua memori  atau potret kreatif pengerjaan ilustrasi kover yang bisa aku rangkum dan ungkap disini. Tapi tidak dengan ketika mendengarkan kembali tembang-tembang yang mereka lantunkan, aku masih merasakan seperti bagaimana catchynya part gitar dan anthem Medani yang spirit berbanding lurus dengan highlight momen kehidupan aku waktu itu yang katakanlah ‘no future’, dalam konteks: “tidak ada waktu selain hari itu”. Tarankanua, yang sebenar potret kehidupan kami pemuda rantau, yang menjadi pemicu tercipta dan bersandingnya Anak Haram Ibu Kota dari Rajasinga,… atau, sensasi pertama ketika mendengarkan gelapnya balada yang coba Doddy Hamson dalam tiap penggal Hitam Semesta itu sendiri, Membius. Musik mereka ini abadi, paling tidak itu yang terunggah di benakku. Atau kesamaan rasa dalam Higher Than Mountain, sensasi emosi masih tetaplah sama, dengan aku di 2007 yang  on repeat mendengarkan materi mereka selama pengerjaan kover ini, begitupun di hari ini aku mendengarkan dan menulis essay di jurnal ini.

This works is Timeless. Aku tidak bisa menggugat klaim diksi penuh makna ini untuk sebuah karya yang pernah terjujur pernah aku buat, tanpa komodifikasi dan ekspekstasi, yang pastinya tidak lepas dari kebesaran 18 lagu yang ada didalamnya. Komunal: Born in Blues, Raised on Rock, and Grow up in Metal.

Heavy Metal Tetap Berkibar!

 

…because you know i am alone long way from home

 

KOMUNAL ‘Hitam Semesta’ & ‘Gemuruh Musik Pertiwi’

12″ Record and Double CD Coming Out Soon by Disaster Record.

www.disasterposse.com

The Flames That We Shared

Prelude A Trilogy  Gergasi Api Visual Single Pt.1 (Anoa Records, 2021)

The Flames That We Shared adalah single pertama dari Gergasi Api, project duo dari Ekyno (Full Of Hate) dan Alexandra J Wuisan (Sieve, Cherry Bombshell). Perkenalan dengan mereka berdua tidak sengaja ditemukan oleh Sayiba Von mencekam perihal project Gloom Wanderernya. Ekyno dan Sandra sedang  rekam vokal di Syailendra Studio, sekitar September 2020 waktu itu. Sosok Sandra dan Ekyno sebelumnya sudah sering saya dengar kiprah di band terdahulunya ketika awal menetap di Bandung. Mendengar mereka merampungkan project duo, saya diam-diam menjadi penasaran dan ingin sekali mendengarkan hasil rekam mereka hari itu, tapi urung. Mungkin nanti, ketika semuanya sudah selesai di proses.

Selang beberapa bulan lamanya, dari laman sosmed instagram, Ekyno mengontak saya pertama kali disana, mengabarkan kalau materi yang mereka bikin sudah bisa didengarkan dan menanyakan kesediaan untuk menggarap visual untuk kover Gergasi Api. Tawaran saya terima dengan isyarat mempersilakan Ekyno mengirimkan demo dan liriknya untuk di dengar. Dan ada hal yang menarik ketika mendengarkan materi pertama mereka waktu itu The Red Knight dan The Flames That We Shared.  Beat! Komposisi harmoni dan kord yang monoton Ekyno mengingatkan kembali selintas kepada kebesaran riff atmosfir Black Metal era awal. Kocokan gitarnya yang ramai di setiap senar yang keluar  mungkin bisa jadi faktor. Dan seperti saya merasa tidak mempunyai masalah dengan itu, bahkan menjadi nilai plus selain kemonotonan musiknya yang membius. divisi vokalnya Alexandra menuai sesuatu yang dreamy; secara bersamaan. Vokal magis Sandra masih kuat mencengkeram disetiap rima dan musik yang mengikut. Saya selalu mengandalkan insting dan sensasi pengalaman yang terpukau ketika mendengar demo atau materi yang didengarkan pertama kali untuk mengiyakan ikut dalam project proses visual sebuah album. Ini menjadi standar personal saya untuk tergerak dan mau ambil serta. Dan waktu seolah berpihak meskipun di  awal saya masih buta dengan konsep dan brief visual yang Gergasi Api inginkan, tapi beberapa bayangan sudah ada dalam kepala untuk merepresentasikan gambaran umum visual yang bisa di keluarkan.

 Seperti halnya sebuah pendekatan, kali pertama kita meeting secara online belum menemukan insight yang berarti, ada banyak hal yang coba saya tampung dalam bentuk list keinginan, harapan dan keinterestan Sandra dan Ekyno. Faktor terbesar tentunya juga barisan lirik-lirik Sandra yang saya coba pahami dan cermati. Dan dalam rangka membongkar wacana visual inipun semakin meruncing ketika Sandra memberikan sebuah quotes.

“To be able to manage the grief. To be able to feel the flames of the soul of our soul mate who passed away, we first have to go through death (figurative), go to the underworld, and be reborn (transformation) so our flames resides in both of our souls.”

Oke, aku terdiam untuk berapa saat memahami apa yang ada dalam kalimat ini.

Pertemuan kita berikutnya saya kembali datang dengan membawa satu grand rough sketch, konsep serta preview logo hasil pengejawantahan tentang apa yang bisa saya cermati dan lakukan dalam memvisualkan tiga materi demo lagu yang didengarkan, tiga fragmen scene yang terpisah. Seperti halnya masing-masing lagu yang nantinya akan disatukan dalam frame sleeve artwork EP Gergasi Api. Gayung bersambut baik juga hangat oleh Alexandra dan Ekyno, visi akhirnya kita melebur menjadi satu untuk project ini.

Dari tinjauan logo dan ikon, saya merepresentasi logo mereka yang saya harap bisa menjadi cetak biru untuk di develop dan dikembangkan secara detil tanpa menghilangkan estetika dan makna di kedepan harinya oleh siapapun artist/seniman/ilustrator yang mereka ajak untuk kolab di departemen artworknya. Saya membebaskan diri menggunakan hand lettering untuk logo Gergasi Api sebagai alternatif preview. Sebelumnya juga mencoba melakukan pendekatan typefont dengan style vintage art-deco, dengan beberapa sentuhan rekonstruksi tanpa melupakan sisi artistiknya. Pertimbangan pemilihan fontnya sendiripun selain dari poin-poin yang saya garis bawahi tentang Sandra yang menyenangi membaca karya-karya vintage semacam JR Tolkien,  juga sebenarnya meraba karakter musik dan bernyanyi yang Gergasi Api usung gothic, dark tanpa mengesampingkan unsur beat elektronik dan distorsinya yang modern. Akan tetapi typefont  ini urung dijadikan sebagai logo bagi Ekyno dan Alexandra. Sehingga terpilih tulisan tangan yang saya bubuhi seperti terlihat yang kemudian touch up final dalam bentuk vektor di Adobe Illustrator. 

Adalah sebuah penggalan awal dari bait yang dinyanyikan oleh Sandra yang memulai ini semua ; “…Go, any place be All..” yang sepertinya memberkati tanganku ketika mencoret sketsa awal ilustrasi lagu ini tercipta, membuat keberadaan semakin jelas sejauh saya memandang, fragmen pertama juga single yang pertama akan dirilis adalah The Flames That We Shared, aku tetapkan sebagai  sebuah ode untuk api yang terus berkobar merelakan sebagian percikan percikannya hilang. Balutan tematik merayakan perasaan emosi kehilangan dan penemuan kembali citra diri sebagai perspektif dari lirik menjadi sebuah makna rentang waktu yang pendek kita yang ditinggal punya yaitu adalah ‘Sekarang’. 

 

The Danse Makabre

Prelude to Forgotten ‘Silalatu’  Cover Art (Grimloc Records, 2020) 

Silalatu punya banyak cerita dengan waktu pengerjaannya yang tidak banyak kala itu. Ya, waktu  memang tidak boleh dikatakan tidak tepat, karena ianya tidak salah. Mungkin lebih kepada penerimaan keadaan yang memaksa.  Oke mungkin saya terlalu berapi-api dalam memulai paragraf blog ini. Tapi ini FORGOTTEN! Saya tidak bisa menepis persepsi saya tentang mereka: kemarahan, berapi-api!

Flash Concept Preview

Sebelumnya, ini adalah kali kedua saya mendapatkan kesempatan bekerjasama lagi dengan Death Metal paling panas dari Ujung Berung Bandung ini, tentunya yang pertama ketika menggarap kover artwork dan layout untuk Kaliyuga (SEMS records, 2017).

Ketika mendapat panggilan dari Addy Gembel soal mengerjakan album ini, ia mencoba menguraikan  secara garis besar bahwa materi dalam album ke tujuh Forgotten ini merekam tentang konflik yang  yang terjadi disegala penjuru negri dan berbagai macam eskalasi  yang memakan banyak korban baik nyawa maupun harta benda. Judulnya sendiri adalah ‘Silalatu‘, yang bisa diartikan sebagai bunga api. Penggambaran Silalatu itu seperti ketika kita melihat sebuah benda terbakar dalam skala yang besar, dalam jilatan api akan muncul titik-titik api kecil yang beterbangan kesana kemari. Hm. Oke, kalimat lainnya mungkin bisa disebut dengan bara api yang terbang. 

Proses pemahaman konsep album Forgotten lumayan memakan waktu bagi saya, disamping timeline di berbagai pihak yang mengalami anomali karena keterbatasan gerak dan fokus  kita pada keadaan selama pandemi. Keterbatasan yang menjadi bentuk normal yang baru. Sementara guratan dan tangkapan visual masih terus menjadi wacana dikepala. Sebuah tantangan bagi saya untuk menggambarkan sebuah keadaan hari ini sekali seperti yang ada dipenggalan lirik-lirik Addy Gembel kedalam sebuah metaphora yang pas untuk saya pegang dan bisa nyaman bermain didalamnya. Sebuah etik yang harus saya pegang teguh.

Dalam memori saya merekam, saya ingat dengan keadaan situasi yang mengharuskan tidak kemana-kemana karena isu lockdown pandemic korona dan segala tetek bengeknya, sayapun hanya bisa memantau dan membaca dari sudut timeline twitter, bagaimana Taman Sari Bandung yang saya tau sedang diporak porandakan kerakusan orang orang yang punya kepentingan tanah disana, rakyat bawah dan mahasiswa yang berdemonstrasi melawan angkuhnya aparat disana, bagaimana pembakaran bukti bukti di gedung sebuah Mahkamah yang katanya Agung, dengan beberapa yang lainnya membelokkan isu yang sangat tidak masuk akal, keluhan-keluhan marah orang-orang, atau lebih dekat lagi dari pihak Forgotten sendiri, saya ingat Gembel dkk mengorganisir beberapa posko keselamatan di Bandung sana, dan Bang U sang Morgue Vanguard, yang terllihat sibuk memobilisasikan informasi-informasi terbaru seputar keriuhan demonstrasi kepada teman-teman di lini masa sosial media, saya ingat bagaimana harus menebus resep obat dari dokter untuk partner saya yang sakit dan menunggunya di rumah sakit saat-saat itu. Saya ingat itu semua.. sungguh hal yang sangat chaos. Terlihat damai dan adem terjadi untuk mereka yang ada diatas. Ironinya, manipulasi kita semua berbahagia ada di acara acara lawakan tv tidak bermutu yang lagi lagi mempertontonkan kita yang dibodohi. Distopia.

Rough Sketch for The Danse Makabre.

Oke. Cukuplah dengan paragraf yang gagal melukiskan pensuasanaan sepanjang semester awal 2020. Karena ini semua tidak terlihat seperti nyata. Tapi itulah yang menjadi amunisi ilustrasi kover ini keluar. Dari beberapa sketsa awal yang saya tawarkan akhirnya bersambut dengan pilihan Forgotten sendiri. Konsep tari kematian, atau selanjutnya di tulisan ini saya beri titel the Danse Makabre. Dan penggarapan ilustrasinya adalah masa-masa berjuang semua orang. Dihadapkan dengan 38 x 76 cm arches 300gsm, sekali lagi diselingi cerita cerita kehidupan yang morat marit, sosial yang rusak  dan manipulatif, serta isu nasional yang sangat buruk. Saya mencoba untuk tetap berada track timeline pra-produksi album ini dirilis.

The Danse Makabre (Dance of Death), menjadi literasi saya menggambarkan era konsentrasi ini tercetus. . Dimana keadaan distopis, ironik yang terjadi. Chaos. Juga, inipun semacam pemahaman saya mengenal Forgotten secara personal. Addy Gembel seorang pemikir sinis dan penulis yang sarkas, sering menggunakan literasi-literasi budaya Sunda dalam setiap tulisannnya. Gangan, gitaris adalah seorang guru gitar yang juga mendalami instrumen budaya tataran sunda seperti Kacapih dan Karinding. Dan memang. beberapa metalhead dari Ujung Berung sana sangat kental dengan seni budaya Sunda dan aktif dalam sebuah pagelaran bersama semacam Karinding Attack. Hal berbau budaya linguis sangat melekat bagi saya ketika menimbang visual untuk Forgotten. Saya mengambil tematik tarian Purnamasari Silalatu, drama tari yang menceritakan kehancuran kerajaan Pajajaran kala itu. Oke, berhenti sampai disini, saya tidak mencoba untuk  menggali pemahamannya drama tari ini Purnamasari ini disini. Singkat cerita esensi Tari, Silalatu, dan Forgotten tidak bisa hilang dalam bayangan saya yang memang sedang mengobservasi visual-visual yang akan saya tawarkan dalam sketsa pendahuluan, tanpa melupakan nilai-nilai dari Death Metal itu sendiri. 

Setelah proses pengerjaan lukisan, scanning, dan beberapa adjustment digital, kemudian masuk ke tahap layout tata letak. Data lukisan bentuk file saya kirim via drive ke email Grimloc Records untuk di eksekusi lanjut. Dan eksekusi lukisan menjadi lebih panas dan penuh kemarahan, ketika berada ditangan Herry Sutresna aka Morgue Vanguard di departemen layout dan graphis mengaplikasikan tata letak dalam bentuk booklet sleeve cd. Adalah bang U, begitu panggilan akrab saya untuk dia, memberikan beberapa alternatif. Termasuk salah satunya, layout final yang mungkin sedang kalian pegang dalam bentuk fisik sekarang ini. “Ini Death Metal. Death Fuckin Metal” begitu kurang lebih percakapan kita via text whatsapp waktu itu.

 Kejeliannya dalam mengambil perspektif yang berbeda, menjadi sebuah pemahaman berharga saya dapatkan dari interaksi ini, bagaimana dengan beraninya, Bang U dengan sudut yang berbeda, meng-zoom in dan fokus dibagian detil objek lukisan yang lain, bagi saya itu adalah pemahaman yang menyegarkan (jika ianya bukan literasi yang baru tapi  jarang untuk diulik lihat) ketika saya melihat kembali apa yang saya kerjakan sebelum ini,  beberapa referensi rilisan yang ada di masa sekarang ini. Saya tidak katakan disini, “membosankan”  ketika berbicara kecendrungan apa yang terjadi didunia ilustrasi dan visual yang ramai di hari ini. Anggaplah ini pencerahan. Tentang memandang sebuah  hal yang panas menjadi lebih liar. Salut Bang U. Good Shit For Good Friends. 

Oya, mungkin ketika jurnal ini saya post dan kalian baca, kalian mungkin sedang memegang bentuk rilisan fisik Forgotten Silalatu ini dan mendengarkannya, Selamat Menikmati.

Forgotten Silalatu, Mayhem on plastic, 18 dec 2020. Menutupi tahun bangsat!

Order now via www.grimlocstore.com

October Sky, October Leafs

Prelude to Gloom Wanderer ‘Pathway to the Unknown’

One morning, late February 2020. I’ve got a message from Sayiba Von Mencekam. He told me that he made a solo project, named Gloom Wanderer. The music, just like the name, was so gloomy, instrumental, without vocals. A  solitude journey. He asking me for the first time about the illustration for this project. I said to Mencekam, what if i take a  listen to feel the material demo first and promising to call him later. And our conversation end up just like that. It succeed to make my Monday more abstract as a normal day. Gloomy.

April 21th, it was supposed to be a celebration of Records Store Day, but because the lockdown and social distancing issues, the celebration was cancelled. From the social media timeline, i saw Mencekam post released the Gloom Wanderer’s demo on Soundcloud while i was still focused on my partner recovery, who diagnosed Cancer last March 2020. Okay, i thought Mencekam cancelled the project, because our lack of communication. It beyond my  ability at that time.
And the previous artwork Mencekam used is a masterpiece from Thomas Cole, was one of the greatest landscape painters in the early XIX century.

Like me, Mencekam adores his work like crazy. He put  Thomas Cole “Romantic Landscape with Ruined Tower”  for visual artwork, but for one reason or another, the cover was take it down by copyright issue. I’m not really sure. Here then Mencekam  called and asking me again to make an illlustration for the cover art.

Okay, i said yes.

The main concept and expectation are clear now. I thought the visual will not be far from a Thomas Cole  painting.  A chance like these is more likes continuing my inner interest about classic kitcsh painting, literature and self taught study which i have never gotten in any form of formal education. But i keep in mind and Mencekam, I told him that achieving the results as Thomas Cole achieved it is more useless task because it almost imposible. May other people might achieved close enough, but for me, it’s always imposible to make the painting too similar. I think it’s okay to copy the works of style other paintings. I’m not denied that I was influenced and learn a lot from them. I remember first i get more deep into watercolor, I learned from old and new other master of watercolor or oil painting. But, there are many things that I cannot immitate. Such as the materials. It’s has nothing to do with the material that other painter used. I know, if I used sephia that Cole used, I won’t be painting like the Great Thomas Cole. True! I know it sounds obvious. Haha, I’d just want to tell you this, and that would be it.

So that was a long term for me to take some sight for the project painting.

remember first rough sketch i did used Sketchbook on ipad when were on hospital. And covid-19 issue was still trending full of shit and gimmick. The times of falls for us. When i asked Mencekam about the preliminary, he’d just response, “is it paman!” He likes it. But I still didn’t get a satisfaction until I found ‘something I’m on’ in this painting. I’m still need identifying what makes or why I’m so curios about the painting. A things like more spirit and beliefs. And some grieving era for my partner passed away, it was took long awaited until I got recall from my old sketch books for the addition image. Comes from my memory, when I took the card in October 2018. Here, the Five of cups.

Here we go in ‘October Sky, October Leafs’ painting progress at 56 x 76 cm, on Arches 300gsm

The story has spoken as fate telling of today. And yes, i’ve got some cups here. Some of them are broken. It’s okay. I still have other ones. I’m good with a damaged, I collect it. And about the bridge. I never want to burn over that bridge. Let says, okay the bridge are broken too, i will pass the river then. As easy as ‘when you cut me, I bleed.’ There are times I find myself to the pathway of  to the unkwnown, where’s the unknown maybe is a source of fear of many. But for those with a sense of adventure, it must be a challenge to be conquered. Right? What would you do to choose? No. zip your mouth and let the answers is keeps on you.

Pathway to the unknown. We’re about just where to begin, playing for the Time.